Motif Batik Wahyu Tumurun

Motif batik wahyu tumurun menggunakan motif dari burung merak. Makna dari motif ini menyiratkan kebahagiaan dan keharmonisan dalam kehidupan berkeluarga yang langgeng. Batik ini biasa dikenakan pada saat Temu Manten, di acara pernikahan adat Jawa. Maknanya yaitu agar pengantin baru tersebut senantiasa mendapat anugerah dan dikaruniai keturunan yang soleh.

5 Fakta Unik Motif Batik Wahyu Tumurun yang Dianggap Sebagai Busana Pembawa Petunjuk

Batik merupakan salah satu aset bangsa Indonesia yang sarat akan makna. Setiap motif kain batik memiliki filosofi sendiri-sendiri serta berisi pesan kebaikan dan harapan bagi pemakainya. Saking uniknya, pembuatan kain batik membutuhkan keahlian khusus, salah satunya adalah Motif Batik Wahyu Tumurun. 

Orang zaman dahulu percaya bahwa motif batik klasik yang berkembang di Yogyakarta ini memberi petunjuk bagi pemakainya. Konon katanya, untuk menghasilkan batik bermotif Wahyu Tumurun diperlukan waktu 40 hari 40 malam. Nah, supaya makin kenal, simak ulasan berikut ini, yuk!

Arti Nama Batik Wahyu Tumurun 

Rasanya tidak berlebihan jika batik bermotif Wahyu Tumurun dianggap sebagai motif yang memberi petunjuk untuk pemakainya. Hal ini tersimbol dari nama yang digunakan. Kata wahyu dalam bahasa Jawa dimaknai sebagai suatu petunjuk dari Sang Pencipta, baik petunjuk untuk mewujudkan impian, pangkat, hingga kedudukan. 

Sementara kata tumurun juga berasal dari bahasa Jawa yang artinya turun. Secara umum, Wahyu Tumurun dimaknai sebagai harapan akan turunnya petunjuk hidup dari Sang Pencipta. Dengan kata lain, batik ini menyimbolkan harapan dari pemakainya agar memperoleh petunjuk yang membawanya pada keberhasilan dalam mewujudkan cita-citanya. 

Sejarah Motif Batik Wahyu Tumurun

Batik dengan motif Wahyu Tumurun sebenarnya sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram. Motif ini banyak berkembangan di kalangan kaum bangsawan keraton sebelum menyebar ke berbagai daerah di Indonesia, salah satunya di Solo. 

Meski begitu, motif batik yang ada di Yogyakarta dan Solo tidaklah sama. Motif Jogja ini menggunakan burung merak sebagai motif penyusunnya. Sementara desain yang berkembang di Solo menggunakan motif burung Phoenix. Perbedaan motif yang berkembang di Solo tidak luput dari pengaruh budaya Tiongkok yang berkembang saat itu. 

Seiring berjalannya waktu, batik dengan motif Wahyu Tumurun tidak hanya diperuntukkan bagi kaum bangsawan keraton. Penggunaannya semakin leluasa dengan motif yang terus berkembang. 

Unsur-unsur Motif 

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, bahwa batik bermotif klasik ini memiliki unsur yang berbeda-beda di setiap daerahnya. Namun, ada tiga unsur yang kerap kali dijumpai dalam motif batik ini, yakni mahkota terbang, ayam atau burung, dan bunga. 

Motif mahkota terbang 

Motif mahkota terbang adalah motif utama dalam kain ini. Motif mahkota terbang menyimbolkan kemuliaan atau kedudukan, dengan harapan agar pemakainya mendapatkan petunjuk, rahmat, berkah, dan anugerah dari Tuhan dalam menjalani kehidupan. 

Ayam atau burung 

Motif ayam atau burung biasanya ditempatkan saling berhadapan dengan motif mahkota terbang pada batik Wahyu Tumurun. 

Motif bunga 

Motif bunga sebenarnya hanyalah tambahan saja. Selain bunga, biasanya pembuat batik juga menambahkan motif tumbuh-tumbuhan. 

Meski mempunyai motif yang cukup beragam, namun pembuatan kain batik sebagai pakaian tidak boleh dilakukan secara sembarangan agar tidak menghilangkan makna yang terkandung di dalam motif Wahyu Tumurun itu sendiri. 

Upacara Tingkepan 

Zaman dahulu, batik Wahyu Tumurun hanya digunakan oleh bangsawan keraton saja. Namun kini, kain ini juga digunakan pada acara-acara tertentu, seperti halnya upacara tingkepan atau tujuh bulanan. Tradisi ini biasanya digelar ketika bayi yang berada dalam kandungan menginjak usia tujuh bulan. 

Ada makna tersendiri mengapa batik Wahyu Tumurun digunakan dalam upacara tingkepan. Salah satunya adalah harapan agar si bayi mendapatkan kemuliaan dan kedudukan yang baik ketika lahir nantinya. Selain itu, bayi yang lahir diharapkan mendapat petunjuk dan bimbingan dari Sang Pencipta dalam menjalani hidupnya. 

Bisa dikatakan bahwa penggunaan kain wastra ini pada upacara tingkepan merupakan serangkaian doa dari orang tua untuk calon buah hatinya. 

Makna dalam Upacara Pernikahan 

Saking menariknya makna batik Wahyu Tumurun, motif batik klasik ini tidak hanya digunakan pada upacara tingkepan saja, tapi juga upacara pernikahan. Biasanya, motif ini digunakan oleh mempelai pria. Penggunaan motif wastra ini pada upacara pernikahan pun sarat ada doa untuk kedua mempelai dalam menjalani biduk rumah tangga. 

Salah satu harapan yang disimbolkan dari kain ini dalam upacara pernikahan adalah pengantin pria diharapkan memperoleh keberkahan lahir batik dalam menempuh kehidupan rumah tangganya. Selain itu, kedua mempelai diharapkan mendapat keharmonisan, kebahagiaan, dan mendapat petunjuk dalam membina rumah tangganya. 

Demikian tadi motif batik Wahyu Tumurun dan maknanya yang perlu Anda ketahui. Memang sarat akan makna, tak mengherankan jika kain batik ini banyak dikenakan dalam acara-acara penting sebagai bentuk doa dan harapan bagi pemakainya.

Motif Batik Wahyu Tumurun