Ragam Kain Tenun Ulos dan Makna yang Terkandung di Dalamnya

Apakah Anda mengenal kain tenun ulos?

Saya pernah berkunjung ke Sumatra Utara, tepatnya ke Medan. Dari sana saya tahu, ternyata, kain tenun tersebut merupakan pakaian tradisional khas suku Batak, Sumatera Utara.

Pemerintah telah menetapkan kain tenun ulos sebagai warisan budaya tak benda pada tahun 2014. Kain yang menjadi lambang pemersatu sekaligus identitas orang Batak ini mengandung pesan moral dan saluran berkat bagi penerimanya (Parhitean).

Kain Ulos

Hampir semua kain ulos memuat pesan moral dan saluran berkat bagi  penerima atau pemakainya. Masyarakat suku Batak Toba menyebutnya sebagai saluran berkat (Parhitean) bagi yang menerima.

Dalam artikel ini saya akan membahas secara mendetail mengenai kain ini, mulai dari pengertian hingga keberagaman maknanya.

Penasaran?  Yuk, simak ulasannya!

Apa Itu Kain Tenun Ulos?

Tahukah Anda?

Pemerintah telah menetapkan kain tenun ulos sebagai warisan budaya tak benda pada tahun 2014. Kain yang menjadi lambang pemersatu sekaligus identitas orang Batak ini memiliki ratusan motif dan memiliki makna yang mendalam.

Untuk bentuknya sendiri, kain ini menyerupai selendang dengan panjang sekitar 1,8 meter dan lebar 1 meter. Kedua ujungnya berjuntai dengan panjang sekitar 15 cm. Proses pembuatan kain ulos dilakukan oleh kaum perempuan, dimana mereka menenun dari benang kapas atau rami menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).

Kain Ulos

Ingin Tahu Bagaimana Sejarahnya?

Sejarah kain ulos dimulai sejak abad ke-14 yaitu bersamaan dengan masuknya alat tenun tangan dari India. Sejak saat itulah masyarakat suku Batak mulai mengenal kain ulos.

Menurut keyakinan nenek moyang mereka, darah, nafas, dan kehangatan adalah 3 hal yang memberi kehidupan bagi tubuh manusia, sehingga “rasa hangat” menjadi suatu kebutuhan yang didambakan setiap saat.

Terdapat 3 sumber kehangatan yaitu: matahari, api dan ulos. Matahari dan api merupakan sumber kehangatan, namun keduanya tidak praktis digunakan untuk menghangatkan tubuh. Berbeda dengan kain ulos yang sangat praktis digunakan kapanpun dan dimanapun.

Hingga akhirnya, menjadi barang yang penting dan dibutuhkan semua orang serta memiliki nilai yang tinggi di tengah-tengah masyarakat suku Batak.

Kain Ulos

Lalu, Apa Itu Upacara Mangulosi?

Upacara Mangulosi adalah ritual pemberian kehangatan dan penerimaan kasih sayang. Kegiatan ini sangat penting bagi orang Batak, karena dalam setiap upacara adat seperti pernikahan, kelahiran, dan dukacita, kain ulos selalu menjadi bagian adat yang selalu diikutsertakan.

Umumnya Pemberi Kehangatan (Pemberi Ulos) adalah:

  • Orang tua kepada anak-anaknya
  • Adik kepada kakaknya
  • Hula-hula (keluarga laki-laki dari pihak perempuan) kepada Boru.
Kain Ulos

Bagaimana Aturan Penggunaannya?

Aturan pemberian dan penggunaan Kain tenun ulos dituangkan dalam aturan adat, antara lain:

  1. Hanya diberikan kepada kerabat yang usianya di bawah kita, seperti Natoras tu ianakhon (orang tua kepada anak), hula-hula kepada boru, dll.
  2. Kain yang diberikan haruslah sesuai dengan kerabat yang akan diberi ulos, seperti kain ulos Ragi Hotang diberikan untuk ulos kepada hela (menantu laki-laki).

Sementara aturan penggunaanya antara lain:

  1. Siabithonon (dipakai ke tubuh sebagai baju atau sarung) kain yang digunakan adalah ulos ragidup, sibolang, runjat, jobit dan lainnya.
  2. Sihadanghononhon (diletakan di bahu) kain yang digunakan adalah ulos Sirara, sumbat, bolean, mangiring dan lainnya.
  3. Sitalitalihononhon (pengikat kepala) kain yang digunakan adalah ulos tumtuman, mangiring, padang rusa dan lainnya.

Filosofinya

Secara bahasa ulos berarti kain atau selimut untuk menghangatkan tubuh. Seiring dengan perkembangannya, kain ini menjadi lambang kasih sayang dan bagian tak terpisahkan dari situs kehidupan masyarakat Batak.

Pemberi ulos selalu menyertakan kata-kata (berkat) dan doa restu kepada penerima ulos. Kemudian muncul istilah “ulos untuk badan dan jiwa (tondi)” yang berarti kain ini tidak hanya berfungsi menyelimuti badan, tapi juga sebagai pelindung jiwa.

Seseorang akan mendapatkan ulos dari leluhurnya ketika memulai kehidupan baru, yaitu menjelang kelahiran, pernikahan, atau mempunyai anak atau cucu, sampai meninggal dunia.

 “Menurut kepercayaan masyarakat suku Batak, jika panjang tidak dibuat sesuai ketentuan maka akan membawa bencana bagi jiwa si penenun, alih-alih membawa kebahagiaan dan keberuntungan seperti yang diharapkan”

Pembuat ulos (penenun) biasanya sudah tahu kepada siapa ulos akan diberikan sehingga dalam proses penenunannya ada doa yang diselipkan untuk penerimanya. Jenis, warna, dan coraknya pun disesuaikan.

Apa Makna Warnanya?

Warna dominan kain tenun ulos adalah merah, hitam, dan putih yang dihiasi oleh ragam tenunan dari benang emas atau perak. Adapun makna yang terkandung dalam warna  kain ulos adalah :

  • Warna Putih melambangkan kesucian dan kejujuran
  • Warna Merah melambangkan kepahlawanan dan keberanian
  • Warna Kuning melambangkan kekayaan atau kesuburan
  • Warna Hitam  melambangkan duka

Ragam Desain dan Makna yang Terkandung di Dalamnya

Sebenarnya, kain tenun ulos memiliki lebih dari 100 jenis kain dengan motif yang berbeda-beda. Dan yang paling mengesankan, hampir semuanya memiliki makna masing-masing. Berikut saya rangkumkan 7 jenis beserta maknanya:

1. Pinuncaan (Ulos Besar, Induknya Ulos)

Merupakan salah satu jenis kain termahal, terdiri dari lima bagian yang ditenun secara terpisah dan disatukan dengan rapi menjadi bentuk satu ulos.

Kain Ulos Pinuncaan biasanya dipakai untuk :

  • Dipakai oleh Raja-raja dalam acara adat, baik sukacita maupun dukacita.
  • Dipakai oleh rakyat biasa ketika ada pesta pernikahan atau upacara adat (tuan rumah)
  • Dipakai oleh keluarga Hasuhuton (tuan rumah) pada pesta besar
  • Berfungsi sebagai Ulos Passamot pada acara pernikahan yaitu ulos yang diberikan oleh orang tua pengantin perempuan (Hulahula) kepada kedua orang tua pengantin dari pihak laki-laki (pangoli) sebagai pertanda bahwa mereka telah sah menjadi saudara dekat.

2. Bintang Maratur (Ulos Besar, Bintang Teratur)

Kain tenun ulos ini memiliki motif garis-garis yang menggambarkan jajaran burung atau bintang yang tersusun rapi. Melambangkan sikap yang patuh, setia, dan rukun dalam suatu ikatan keluarga termasuk dalam hal kekuasaan dan kekayaan.

Umumnya digunakan dalam acara-acara adat Batak Toba, seperti:

  • Diberikan kepada anak yang menempati atau meresmikan rumah baru karena memiliki rumah baru merupakan suatu kebanggaan terbesar bagi masyarakat Batak Toba.
  • Diberikan dalam acara selamatan hamil 7 bulan oleh pihak hulahula kepada anaknya.
  • Diberikan kepada Pahompu (cucu) yang baru lahir sebagai Parompa (gendongan), dengan harapan setelah kelahiran anak tersebut akan disusul pula kelahiran anak selanjutnya.
  • Diberikan untuk Pahompu (cucu) yang baru mendapat pembaptisan di gereja, biasanya dipakai sebagai selendang.

3. Ragidup (Ragi Hidup)

Secara umum kain Ragidup terdiri dari tiga bagian yaitu dua bagian yang ditenun sekaligus dan satu bagian tengah yang ditenun tersendiri dengan sangat rumit. Biasanya ditemukan dalam setiap rumah tangga suku Batak di daerah yang masih kental adat Batak nya.

Disebut Ragi Hidup karena jika dilihat dengan cermat dan lebih teliti akan lebih hidup warna dan coraknya. Kain ulos ini melambangkan betapa pentingnya kehidupan dan kebahagiaan dalam keturunan dengan umur yang panjang (saur matua).

4. Ragi Hotang (Ulos Kecil, Ragi yang Kuat)

Meskipun termasuk salah satu jenis kain ulos yang memiliki derajat tinggi, cara pembuatan Ragi Hotang tidak sesulit ulos Ragidup. Umumnya jenis kain ulos ini diberikan kepada sepasang pengantin yang sedang melaksanakan pesta adat.

Ulos Ragi Hotang sering juga disebut sebagai Ulos Hela. Pemberian Ulos Hela memiliki makna bahwa orang tua pengantin perempuan telah menyetujui putrinya dipersunting oleh laki-laki yang  disebut sebagai “Hela” (menantu).

Biasanya dalam pemberian ulos ini selalu disertai dengan memberikan mandar Hela (Sarung Menantu) yang bermakna laki-laki tersebut tidak boleh lagi berperilaku seperti laki-laki lajang tetapi harus berperilaku sebagai orang tua.

5. Sibolang (Ulos Berwarna-warni atau Belang)

Sekalipun cara pembuatannya lebih sederhana, kain tenun ulos Sibolang juga tergolong salah satu kain tenun yang memiliki derajat cukup tinggi. Disebut sebagai simbol dukacita karena kain ini biasanya digunakan pada saat terjadi peristiwa duka.

Beberapa kegunaan utama kain Sibolang antara lain :

  • Dipakai sebagai Ulos Saput yaitu jika ada orang dewasa yang meninggal tetapi belum mempunyai cucu.
  • Dipakai sebagai Ulos Tujung yaitu untuk janda atau duda yang ditinggal mati oleh pasangannya sebagai pertanda bahwa yang bersangkutan adalah keluarga dekat dari orang yang meninggal.

6. Sitoluntuho (Ulos dengan Tiga Garis)

Kain Tenun ulos Sitoluntuho ini biasanya digunakan sebagai selendang dan pengikat kepala atau tali-tali oleh gadis Batak.

7. Antak-antak        

Selain dipakai sebagai selendang orang tua saat bertakziah, jenis kain tenun yang satu ini  juga dipakai sebagai kain yang dililitkan pada waktu menari (manortor).

Seiring dengan perkembangan mode, saya yakin, kain tenun ulos akan terus muncul sebagai produk fashion. Sebagian kalangan menyatakan hal itu sah-sah saja. Namun, apakah hal ini tidak akan menghilangkan makna yang terkandung di dalamnya? Saya rasa tidak.

Bagaimana menurut Anda?