Motif Batik Truntum: 7 Jenis

Motif batik truntum ini diciptakan Kanjeng Ratu Kencana, yakni Permaisuri dari Sunan Paku Buwana III. Kata truntum sering dimaknai sebagai penuntun. Biasanya dikenakan oleh orang tua pengantin saat acara pernikahan. Di sini dimaknai bahwa orang tua merupakan penuntun atau panutan bagi anak-anaknya.

Mengetahui 7 Jenis Motif Batik Truntum

Ketika Anda berkunjung ke kota Jogja dan Solo, terasa belum lengkap jika Anda tak bawa oleh-oleh atau souvenir khas daerah tersebut bukan? Ada cukup banyak hasil kerajinan yang berasal dari dua kota ini yang bisa untuk Anda bawa pulang. Contohnya saja, kain batik khas daerah-daerah tersebut.

Anda bisa untuk berkunjung ke toko, butik ataupun outlet batik yang terkenal di dua kota itu untuk sekaligus belajar mengenai sisi historis yang menarik sekali. Misal salah satunya adalah batik truntum. Kain ini dikenal dengan motif sakral pada kalangan orang tua. Pasalnya sering dikenakan ketika menikahkan anak. Wastra Truntum pun dianggap menjadi wujud dari perhatian, kepedulian, serta kasih sayang dari ayah dan ibu pada putra ataupun putrinya. 

Menarik bukan? Maka, sayang sekali jika Anda tidak banyak tahu tentang batik ini. Ada cukup banyak motif batik truntum yang memang sebaiknya Anda ketahui. Untuk itu, di sini akan membahas tentang jenis-jenis tersebut. Simak sampai selesai, ya!

Motif-Motif Batik Truntum Khas Jogja dan Solo

Motif Batik Truntum Gurda

Motif batik yang satu ini terdiri dari berbagai tulis seperti wahyu, garuda, sri kuncoro, kuncoro dan lain sebagainya. Kain ini juga biasanya dipakai pada upacara ataupun prosesi pernikahan ada Jawa Jogja dan Solo. Truntum Garuda ini dikenakan oleh orang tua dari pengantin, yang terdapat filosofi untuk mengarahkan atau menuntun. Sebagai orang tua tentunya mempunyai kewajiban untuk menuntuk calon pengantin yang akan memasuki babak yang baru di dalam kehidupan yang penuh dengan lika-liku. 

Motif Truntum Garuda Sogan

Motif yang satu ini merupakan karya Ratu Kuncoro atau yang dikenal sebagai Ratu Beruk. Ratu Beruk merupakan permaisuri Sri Paku Buwono ke – 3. Berdasarkan sejarahnya, sang Ratu yang sepanjang hidup diperlakukan secara istimewa dan dicintai Raja, merasa jika dirinya sudah dilupakan oleh Raja karena telah punya kekasih yang baru. 

Sang Ratu yang merasa sedih mencari cara lain untuk mengisi kekosongan dan menghilangkan rasa gundah pada Raja. Lalu Ratu pun memilih untuk membatik pada akhirnya. Di dalam proses pembuatan, Ratu Beruk membuat desain yang seperti bintang-bintang di langit pada malam hari. Dimana itu ternyata jadi pelipur lara dan menjadi teman di dalam kesendiriannya. 

Truntum Gurdho Lawasan

Keuletan serta ketekunan Ratu di dalam membatik ternyata membuat Raja tertarik, hingga suatu hari mulai untuk mendekati Ratu kembali supaya dapat melihat hasil dari pembuatan. Semenjak itu, Raja selalu memperhatikan dan memantau perkembangan dari pembatikan yang Ratu lakukan. Lalu Raja sedikit demi sedikit kembali jatuh cinta pada Ratu.

Berkat motif batik Ratu, cinta Raja kembali bersemi sehingga motif tersebut diberi sebutan atau nama ‘Truntum’, yang mana sebagai lambang berseminya cinta Raja. 

Motif Batik Truntum Sogan Lengko

Batik ini secara garis besar dapat untuk dimaknai menjadi kehidupan manis yang pasti tak terlepas dari rasa senang dan susah, terang dan gelap, kaya dan miskin, serta begitu seterusnya.

Dapat dilihat dari penggambaran pola atau desain tulis, motif batik truntum ini memperlihatkan bintang atau bunga yang jika dilihat dari depan serta diposisikan di bintang dengan bentuk segi empat. 

Motif Batik Truntum Lawasan Kombinasi

Kain ini isinya adalah motif yang mempunya latar dasar hitam serta dihiasi tebaran bunga tanjung yang tak langsung presentasikan wujud dari bintang bertaburan pada malam hari.

Isrilah atau sebutan truntum asalnya dari Bahasa Jawa, yaitu ‘tuntum’. ‘Tuntum’ mempunyai arti ‘timbul kembali’, ‘mekar kembali’, atau ‘tumbuh kembali’ yang mempunyai hubungan erat dengan rasa cinta atau cinta suami dan istri. 

Motif Batik Truntum Sri Kuncoro

Pastinya, motif batik ini berdasarkan fungsi dan kegunaan kain atau jarik yang umumnya dipakai oleh orang tua calon mempelai ketika upacara atau prosesi midodareni serta panggih di acara pernikahan. 

Biasanya pada adat Jawa, para tetua akan mengenakan batik truntum ketika akan nikahkan anak dengan harapan supaya rumah tangga anak mereka sakinah, mawada, warahmah, langgeng serta tidak ada pertengkaran, apalagi sampai ada perceraian antara ayah dan ibu di dalam niat untuk jodohkan anak-anak mereka. 

Motif Batik Truntum Kuncoro

Batik truntum ini kisahkan mengenai perjalanan dari kehidupan manusia, yang mana disimbolkan lewat ornamen sulur yang merambat dari pohon hayat. Pohon tersebut adalah simbol terdapatnya pohon di surga yang jadi asal semua bentuk struktur dan konstruksi kehidupan semua makhluk hidup. 

Maknanya berisikan doa serta berbagai harapan dari orangutan supaya perjalanan kehidupan dari anaknya yang akan menikah selalu dipenuhi oleh rasa kasih sayang serta cinta sampai menggapai kesempurnaan (titik kuncoro). 

Nah, itulah 7 motif batik truntum yang pastinya mempunyai makna tersendiri. Masih cukup banyak motif batik ini, maka dari itu Anda harus mempelajari lebih banyak tentangnya. Semoga bermanfaat!

Motif Batik Truntum