Jatuh Bangun Usaha Batik dan Tenun Indonesia

Peningkatan ekspor tenun dan batik nasional masih terbuka seiring produk dengan nilai semakin tinggi dan demi terjalinnya kerja sama ekonomi dengan negara potensial, di sini saya tertarik untuk lebih mengenal bagaimana jatuh bangunnya usaha batik dan tenun Indonesia.

sumber: youtube

Dalam hal ini industri tenun dan batik merupakan bagian dari kelompok industri tekstil dan busana yang memiliki kontribusi besar dalam perkonomian nasional dan banyak ditekuni oleh pelaku industri kecil dan menengah (IKM) yang tersebar dalam sentra industri.

Saya melihat batik dan tenun ini merupakan kain tradisional yang kental dengan nilai budaya, dimana dibuat dan diwariskan secara turun-temurun, motif mengandung arti dan filosofi.

Cara pembuatannya unik, dengan menggunakan canting dan alat tenun, bukan mesin, dipadukan dengan pasar generasi digital. Para perajin batik dan tenun di Indonesia terus berinovasi dalam hal bahan baku, sehingga dapat bersaing dengan produk sejenis dari negara lain.

Usaha Batik
sumber: youtube

Sejarah Batik dan Tenun Indonesia

Batik berkembang melewati sejarah panjang sejak bangsa Austronesia dari kawasan Cina Selatan merambah kepulauan Melayu hingga Pasifik, bercirikan kapak persegi menandai munculnya leluhur yang mempunyai kemampuan mengolah kayu, keramik hingga sulam atau tenun.

Pola garis bersudut dengan bentuk mozaik banyak didapati dalam artefak jaman peradaban Dong-Son atau Nekara-Perunggu sekitar 2000 tahun yang lalu.

sumber: youtube

Teknologi tenun itu sendiri, menurut para ahli, dikenal di Nusantara sejak 200 tahun sebelum Masehi. Peneliti Michael Hitchok dari Hull University, memperkirakan pada masa dinasti Han di Cina, mempunyai kesamaan dengan ditemukan wilayah timur Indonesia, dimana artefak itu memperlihatkan sosok orang yang sedang menenun menggunakan alat tenun ikat. Bagi masyarakat Jawa dikenal sebagai Gedogan.

Sejarah perkembangan alat tenun Asia Tenggara terpatri di dalam relief candi Borobudur, dimana terlihat gambar perempuan menarik bilah bambu bagian dari alat tenun, diperkirakan dibuat pada abad 9 Masehi.

Menurut catatan ahli sejarah Cina yaitu Yi Jing, bahwa perjalanan para biksu Budha yang belajar di Sriwijaya pada masa itu telah mengenal teknologi tenun katun, bahkan raja ujung utara pulau Sumatra itu telah mengenakan kain sutera.

Pada abad 15 dan 16, Ma Huan (pencatat dari armada Cheng Ho) dan Tome Pires (apoteker dari Portugis) mengetahui keberadaan produk tenun di Indonesia, entah didatangkan dari India atau Cina, tapi kain-kain itu telah menjadi busana yang dipakai setiap hari.

Sejak kedatangan Portugis dengan menduduki Malaka, produk tenun, kain katun, sutera maupun batik, mulai masuk dalam perdagangan dunia. Belanda kemudian mengembangkan perdagangan tekstil dan merintis industri batik di berbagai wilayah yang hingga saat ini menjadi kluster batik.

sumber: youtube

Inovasi Para Perajin Usaha Batik dan Tenun Indonesia

Ekspor tenun dan batik Indonesia, disini saya lihat sudah mulai merambah ke negara maju seperti Jepang, Belanda dan Amerika Serikat, seiring produk usaha batik yang semakin bernilai tambah tinggi dan terjalinnya beberapa kerja sama ekonomi dengan negara potensial.

sumber: youtube

Industri tenun dan batik merupakan bagian dari kelompok industri tekstil dan busana yang memiliki kontribusi cukup besar terhadap perekonomian Indonesia, dimana industri tenun dan batik ini banyak ditekuni oleh pelaku usaha industri kecil dan menengah (IKM), berorientasi ekspor dan tergolong padat karya.

Upaya pemerintah memfasilitasi berbagai promosi usaha batik dengan menggelar pameran secara konsisten untuk meningkatkan daya saing produk dalam negeri, dimana industri tekstil sendiri sebagai salah satu sektor prioritas dalam hal penciptaan nilai tambah, perdagangan, besaran investasi, dampak terhadap industri lain dan kecepatan penetrasi pasar.

sumber: youtube

Pemasaran kain tenun dan batik secara luas saat ini menggunakan digital marketing pada berbagai macam platform yang tersedia, seperti market place, media sosial dan digital avatar (DAV).

DAV dikenal sebagai media pemasaran produk interaktif yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku industri untuk memasarkan produknya, dapat memberikan data statistik sebagai umpan balik bagi produsen dalam meningkatkan jenis produksi dan kualitas serta jumlah omset.

Salah satu pameran kain adat terbesar di Indonesia adalah Pameran Adiwastra untuk mengobarkan semangat kelestarian serta pengembangan kain adat di nusantara yang memiliki kekayaan dan keindahan serta nilai filosofi dan kearifan lokal yang tinggi dari usaha batik ini.

Tren nuansa etnik dan tradisi serta gaya hidup kembali ke alam banyak dianut para generasi muda yang turut mendongkrak pemakaian kain adat, baik batik, tenun maupun jumputan atau sasirangan dan menunjang usaha batik. Dalam hal ini juga memberikan edukasi kepada generasi milenial untuk menggunakan, mencintai dan melestarikan wastra adati.

Kisah Jatuh Bangun Usaha Batik dan Tenun Indonesia

Berikut akan saya ulas mengenai kisah jatuh bangun usaha batik dan tenun Indonesia dari berbagai pelaku usaha batik dan tenun di Indonesia, antara lain:

1. Rajib Nashrudin, pengusaha tenun dan batik di Garut

Rajib Nashrudin, seorang pengusaha tenun dan batik di Garut, atas kecintaannya dan kemampuannya menenun membuatnya cukup sukses lewat merek usaha batik Ralisha Putra Garut (RPG).

Kecintaannya yang besar akan budaya Indonesia serta akrab dengan dunia kain tenun sejak kecil, tidak hanya sekedar membuat kain tenun, berinovasi menggambar batik tulis khas Garut pada kain sutera alat tenun bukan mesin yang ditenunnya, yaitu motif batik tulis Garut tempo dulu. Hal ini tak lepas dari dukungan dan lingkungan keluarga yang telah berkecimpung pada bisnis kain tenun.

Sejak kecil sudah akrab dengan tebaran kain tenun di rumahnya, yang diproduksi oleh kakek, bibi, paman dan saudaranya, hingga memutuskan untuk berbisnis sendiri dengan merek usaha Ralisha Putra Garut (RPG) tahun 2005.

Sebelumnya sempat menjadi pekerja sebagai penenun di perusahaan tenun sutera ATBM di Garut, dengan memiliki keahlian dan kemampuan menenun dijadikan modal untuk membangun usaha batik sendiri bersama istri.

Pembuatan kain tenun dan batik tulis cukup memakan waktu lama dan proses sulit, bisa membutuhkan waktu hingga sembilan bulan, tergantung warna, corak dan tingkat kesulitan. Oleh sebab itu nilai jual kain tenun dan batik RPG pun beragam dan dipasarkan pada pelanggan kalangan menengah ke atas.

2. Cik Mia, pengusaha kain songket di Jambi

sumber: youtube

Sulitnya membangun usaha hingga menggapai sukses dirasakan oleh Mania, akrab disapa Cik Mia, salah satu pengusaha kain songket terkenal di Jambi.

Cik Mia mengenal kain songket dari bibinya yang seorang penenun di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Cik Mia sering memperhatikan bibinya menenun, dan akhirnya dilatih belajar menenun.

Membuka usaha tenun songket Palembang di Jambi sekitar tahun 1999 dalam skala kecil, awalnya hanya sekedar menyalurkan hobi yaitu menenun, juga karena ingin membantu beban suami tanpa harus meminta lebih pada suami.

Memulai usahanya bermodalkan uang sebesar Rp. 3 juta sebagai modal awalnya, didapat dari pinjaman keluarganya dan kepintaran Cik Mia mengumpulkan uang dari pendapatan suami.

Akhirnya Cik Mia menjual kain songketnya di Jambi dengan fasilitas terbatas dibantu suami berkeliling kota Jambi hanya untuk menawarkan kain songket buatannya dengan cara door to door, hasilnya kain songket buatan Cik Mia mulai dilirik para pembeli dan pesanan mulai berdatangan dengan jumlah cukup lumayan.   

Related

Apa yang kamu pikirkan saat mendengar kata “Generasi Z”? Pasti kamu langsung terbesit tentang anak remaja yang tak…

Read more

Dalam kunjungan saya bersama keluarga di Malang Jawa Timur, saya juga sempat mengunjungi Kampung Warna-Warni Jodipan…

Read more

Kita mengenal batik tidak hanya berupa pakaian formal seperti kemeja, atasan wanita maupun dress. Tapi juga pakaian…

Read more

Punya info situs menarik, tentang batik atau wisata Indonesia? Kirimkan disini.

About

BatikIndonesia.com adalah komunitas penggemar batik terbesar di Indonesia, dengan 5 juta fans di facebook, instagram, dan website.

Misi kami adalah membantu para pebisnis Batik Indonesia, agar dapat tumbuh terus. Dan semakin menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Alamat Redaksi
Cipinang Indah. Jakarta Timur

Navigation