Memahami Sejarah Bangsa Lewat Pekerjaan Saya di Museum Batik Danarhadi

Sama seperti kaum muda kebanyakan, saya juga berpikir memakai batik itu kuno dan tidak modis. Saya selalu merasa nampak lebih tua ketika harus memakai batik.

Tentunya, sebagai wanita yang masih berusia remaja saya juga ingin tampil keren dan kekinian. Apalagi, model-model pakaiannya saat itu bisa dibilang membosankan, kebanyakan hanya berupa kemeja dengan model yang itu-itu saja.

Akan tetapi, semua itu berubah ketika saya berhasil menamatkan studi S1. Setelah dinyatakan lulus ujian skripsi, saya mulai mengirimkan berbagai surat lamaran pekerjaan. Mulai dari lowongan sebagai wartawan, penulis, penerjemah, dan pemandu wisata, semuanya saya coba untuk melamarnya.

Sebagai wanita yang akan menyelami dunia kerja, saya ingin profesi yang saya jalani nantinya tidak melenceng jauh dari latar belakang pendidikan saya. Jurusan kuliah yang saya ambil saat itu adalah Bahasa dan Sastra Perancis. Maka saya pun memilih profesi yang berkaitan dengan dunia kepenulisan atau pariwisata saya.

Saat kuliah, saya juga sempat magang sebagai pemandu wisata di Candi Borobudur. Pengalaman itu pula yang membuat saya berpikir bahwa profesi sebagai pemandu wisata cukup menjanjikan dan menyenangkan. Kita bisa mendapatkan bayaran sembari jalan-jalan dan bisa berkomunikasi atau bertemu dengan banyak orang dari berbagai belahan dunia. Hingga akhirnya, nasib membawa saya untuk terjun sebagai pemandu wisata di Museum Batik Danar Hadi Surakarta.

Awal Perkenalan dengan Batik

Tak pernah terbayangkan dalam benak saya bisa menajdi seorang pemandu wisata di museum. Sebagai seorang pemandu wisata, tugas saya sehari-hari adalah menemani dan menjelaskan semua hal tentang museum, terutama yang menjadi koleksi museum. Saya harus mengenal semua hal yang berkaitan, mulai dari sejarah,  proses pembuatan, dan motif serta maknanya.

Setiap jam kerja saya juga harus memakai batik. Berawal dari tuntutan profesi inilah, saya mulai belajar mencintai dan mendalami semua hal tentang sejarah dan lainnya, sebuah hal yang tak pernah terpikirkan di kepala saya.

Tapi, hidup memang menghadirkan berbagai hal tak terduga. Apa yang kita benci hari ini, bisa saja menjadi hal yang benar-benar kita sukai. Dan kita harus bersiap-siap akan semua kejutan yang diberikan oleh kehidupan.

Ketika pertama kali bekerja sebagai pemandu wisata, saya tidak diizinkan langsung untuk menemani wisatawan. Saya harus melewati berbagai tes untuk memastikan pemahaman saya tentang semua hal yang berkaitan.

Dari sinilah, saya mulai mengenal sejarah bangsa Indonesia yang begitu agung. Setiap goresan ternyata memiliki kisah dan makna yang dalam. Bahkan, setiap proses pembuatannya pun terdapat kesabaran dan ketelatenan sang pembuatt. Hal inilah yang membuat saya semakin jatuh cinta.

Langkah kecil memperkenalkan kepada dunia

Suatu kebangga bagi saya bisa menjadi seorang pemandu wisata. Gaji yang saya dapatkan memang tak banyak, namun rasa bangga setiap kali melihat antusiasme wisatawan sungguh tak ternilai. Ada rasa bahagia dalam hati setiap kali wisatawan yang saya dampingi takjub dan tertarik dengan penjelasan yang saya berikan.

Saya juga tak menyangka banyak wisatawan asing yang takjub dengan warisan seni Indonesia. Bahkan usai mengunjungi museum, banyak dari mereka yang tak segan menghabiskan jutaan rupiah untuk membawa pulang ke negaranya.

Hal tersebut sekaligus melahirkan keprihatinan mendalam pada diri saya. Saat saya bertugas untuk memandu wisatawan lokal, banyak dari mereka yang tak menghiraukan apa yang sedang dijelaskan oleh sang pemandu. Mereka hanya sibuk berswafoto tanpa menyadari bahwa kekayaan Indonesia ada di hadapan mereka. Maka jangan salahkan negara tetangga jika mengakui kebudayaan kita sebagai miliknya.

Dari sinilah, saya mulai berniat untuk memperkenalkannya kepada dunia. Hal tersebut saya awali dengan mempebanyak refrensi agar mampu memberi penjelasan mendalam kepada wisatawan museum. Saya juga tak segan memakai untuk hangout atau jalan-jalan. Ketika mencari kado untuk diberikan ke orang tersayang, saya pun memilih batik. Langkah-langkah kecil itu saya harap mampu menjadi awal untuk memperkenalkan ke khalayak.

Sejarah Batik Menjadi Warisan Budaya

Sesuatu yang dulu saya anggap kuno dan kampungan itu ternyata telah ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya tak benda Indonesia. Penentapan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia terjadi pada tanggal 2 Oktober 2009. Sejak saat itulah setiap tanggal 2 Oktober juga ditetapkan sebagai hari batik nasional.

Untuk merayakan penetapan sebagai warisan tak benda Indonesia, beberapa perkantoran, sekolah, hingga sektor pemerintahan pun menyarankan pemakaian pada hari-hari tertentu. Hal yang wajar jika menjadi warisan budaya yang diakui dunia. Pasalnya, kain bukan sekadar kain biasa. Ada proses pembuatan yang panjang, sejarah, hingga nilai sakral di dalamnya. Jadi, sudah sepantasnya mendunia.

Makna Tersembunyi Dibalik Pembuatan

Proses pembuatan pun tidak hanya sehari semalam. Dalam satu kain tradisional berukuran sekitar 2 meter, bisa memakan waktu minimal 6 bulan. Prosenya pun berliku dan membutuhkan keterampilan beragam.

Hal ini seolah menjadi bukti bahwa sesuatu yang benar-benar indah dan bernilai butuh proses, ketekunan, dan kesabaran untuk membuatnya. Sama seperti kehidupan yang membutuhkan kesabaran, kerja keras, dan waktu untuk mencapai tujuan yang kita inginkan.

Setiap proses pembuatan pun menggambarkan kehidupan manusia. Saat proses awal, sang pengrajin harus membuat sketsa terlebih dahulu di atas kain. Setelah itu sang pengrajin harus melukiskannya dengan lilin yang dicairkan, tentu hal yang sulit dilakukan dan membutuhkan ketelitian ekstra.

Itu sebabnya, tidak semua orang bisa membuat. Butuh skill khusus hanya untuk membuat sehelai kain.

Begitupula dalam hidup.

Kita perlu membuat sktesa rencana agar lebih mudah mencapai tujuan. Ibarat garis-garis dalam sketsa, kehidupan kita juga tak selalu lurus. Terkadang, kita perlu melewati kelokan yang membutuhkan kesabaran. Untuk mencapai cita-cita kita juga perlu membekali diri dengan pengetahuan yang cukup agar hasilnya maksimal.

Itulah pelajaran hidup yang saya dapatkan dari proses pembuatan. Siapa yang menyangka, di balik proses pembuatannya yang rumit terkandung pelajaran hidup yang berharga.

Belajar Sabar dan Telaten dari Para Pengrajin

Selain menyuguhkan ratusan koleksi, Museum Danar Hadi tempat saya bekerja juga memiliki mini workshop. Di area mini workshop terdapat beberapa pengrajin. Saya pun memiliki hubungan yang cukup dekat dengan para pengrajin itu.

Selama berinteraksi dengan mereka, tak pernah saya melihat keluh kesal dari wajah-wajah mereka. Senyum sumringah selalu mereka suguhkan acapkali menorehkan lilin-lilin cair di atas kain. Padahal, proses pembuatan tentunya membutuhkan ketelitian tinggi. Sedikit saja hilang fokus, maka motif yang dibuat pun bisa gagal.

Gaji yang mereka dapat sebagai pengrajin tidak begitu besar tetapi mereka tak pernah jemu dan merasa kurang. Bahkan, mereka menganggap proses pembuatan adalah sarana mereka untuk menyalurkan emosi. Sebagai generasi muda, saya pun merasa malu dengan mereka. Saya, yang saat itu masih mendapatkan bantuan dari orangtua, seringkali merasa kurang. Saya masih sering mengeluh dan tak bisa mensyukuri berkah yang sudah saya dapatkan. Akan tetapi, dari mereka saya belajar arti sabar, pengabdian, dan rasa syukur.

Bagaimana Sejarahnya?

Asal muasal hingga kini menjadi warisan budaya Indonesia juga menyimpan kisah panjang. Dari etimologinya, batik berasal dari kata dalam bahasa Jawa, yakni “amba” yang bermakna kain lebar dan “tik” yang artinya pola titik-titik. Kain ini sudah dikenal di Indonesia sejak abad ke 18, khususnya di Jawa. Di zaman itu pengaruh agama Hindu sangat kental sekali dan hampir memengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakatnya.

Motif yang ada saat itu hanya juga mendapat pengaruh besar dari agama Hindu, terutama pengaruh Hindu-Jawa dari kerajaan Pajajaran dan Majapahit. Warna yang  digunakan pun cuma ada tiga macam, yaitu coklat, biru tua dan putih. Konon, warna tersebut juga mencerminkan pengaruh inda, yaitu trimurti.

Pada mulanya, kain ini hanya boleh dipakai untuk kalangan istana. Proses pembuatan pun hanya dilakukan di istana. Permintaan yang terus meningkat membuat proses pembuatannya merambah ke luar istana. Lambat laun, masyarakat di luar istana juga ingin mengenakan juga.

Akhirnya, pihak kraton membuat ketentuan yang mengatur sejumlah motif atau pola yang hanya bisa digunakan oleh kalangan istana, yang dikenal dengan istilah pola larangan. Contoh pola larangan, antara lain motif parang, udan liris, dan semen. Jadi, masyarakat kelas bawah diizinkan memakai tapi dengan pakem-pakem  tertentu. Dari sinilah, para pengrajin mulai menciptakan berbagai warna dan motif yang bisa dipakai masyarakat luas. Hingga sat ini banyak desainer yang tetap menciptakan berbagai motif baru dengan sentuhan modern.

Jenis Jenis Batik Indonesia

Secara garis besar, batik di Indonesia ada dua macam, yakni batik kraton atau pedalaman dan batik pesisiran.

Batik kraton merupakan awal mula dari semua jenis yang ada di Indonesia. Jenis ini berkembang di lingkungan kraton, yaitu kraton Solo dan Yogyakarta. Motifnya pun mengandung makna filosofis hidup yang mendalam. Contoh motif bati kraton, antara lain Satriya Manah, Parang Barong, Semen Rante, Udan Liris.

Sementara itu, batik pesisiran adalah yang berkembang di area pesisir. Jenis ini mulai berkembang sekitar bad ke 19. Jenis ini sudah mendapat pengaruh dari daerah budaya Asing, terutama pada pedagang dari Cina dan India yang datang ke Indonesia. Jenis ini juga lahir untuk tujuan perdagangan.

Perbedaan mendasar kraton dan pesisiran terletak pada pakem penggunaanya. Batik kraton memiliki pakem khusus yang kaya akan makna spiritual. Sedangkan batik pesisir terkesan lebih bebas.

Warna pada pesisiran pun lebih beragam dan cerah, berbeda dengan kraton yang identik dengan warna gelap. Ragam hias pada pesisir juga tak terikat pada filsafat tertentu. Namun, setiap motif pada kraton memiliki unsur filosofi tinggi karena pembuatannya memang bertujuan untuk hal spiritual.

Sedangkan dari teknik pembuatannya, jenis sendiri terdiri dari batik tulis, batik cap dan batik kombinasi.

Batik tulis proses pembuatannya motifnya dilakukan secara manual, yaitu menempelkan lilin panas dengan canting. Ciri khas batik tulis, antara lain warna kedua sisinya bolak-balik lebih rata, desain motifnya tidak berulang sama persis, dan bahan kainnya seringkali terbuat dari mori, katun, atau sutra.

Motif cap dibuat dengan alat dari kuningan atau tembaga yang mirip sempel. Pembuatan cap juga lebih simpel dan membuthkan waktu lebih ringkas. Motif yang dihasilkan juga lebih rapi. Akan tetapi, motif yang dihasilkan juga lebih kaku dan tidak terlalu detail seperti tulis.

Sementara itu, motif kombinasi mengadopsi teknik pembuatan pada cap dan tulis. Teknik cap dipakai untuk pembuatan motif dasar. Sedangkan teknik tulis dipakai untukmengisi jeda kosong antar motif.

Contoh Motif Batik dan maknanya

Batik bukan sekadar kain bermotif saja melainkan karya seni yang memiliki nilai spiritual tinggi di dalamnya. Dalam budaya Indonesia, khususnya Jawa, kain ini selalu hadir di setiap upacara tradisi. Setiap  motif juga mengandung filosofi yang merupakah harapan dan doa. Berikut berbagai contoh motif dan maknanya:

Parang Pamor dan Parang Canthel

Parang pamor merupakan aura kegagahn seorang pria. Motif ini serinkali dipakai anak lelaki saat upacara khitanan. Sedangkan parang canthel dipakai seorang gadis remaja yang memasuki haid pertama. Motif ini menyimbokan harapan agar si gadis lekas mendapatkan jodoh.

Satriya manah dan Semen Rante

Dua motif ini dipakai saat prosesi lamaran. Satriya manah dipakai oleh calon mempelai pria yang menyiratkan arti sang pemakai akan memanah hati si gadis. Sedangkan semen rante dipakai oleh calon mempelai wanita yang melambangkan si gadis akan diikat dalam pernikahan.

Wahyu tumurun

Motif ini dipakai kedua mempelai saat prosesi akad nikah. Motif wahyu tumurun mengandung harapan agar kedua mepelai sellau mendapatkan petunjuk dari Sang Maha Kuasa.

Motif Slobog

Motif slobog dipakai saat prosesi pemakaman. Kata “Slobog”berasal dari “Lobog” yang memiliki arti longgar. Jadi, motif ini menyimbolkan harapan agar kelaurga yang ditinggalkan mendapatkan kelapangan hati.

Itulah pengalaman saya dalam mengenal kain batik Indonesia. Saya tak pernah menyangka dibalik selembar kain ternyata menyimpan kisah panjang dan nilai –nilai kehidupan. Dengan mempelajari sejarah, saya juga lebih mengenal bangsa Indonesia.

Berkat batik pula, saya menyadari bahwa bangsa Indonesia memliki sejarah yang luhur dan bernilai tinggi.

Related

Jawa Timur Park 1

Kota Batu di Jawa Timur memang punya banyak suguhan menarik untuk dinikmati. Tidak hanya cuacanya yang sejuk, tapi di…

Read more

Toko Batik Budhe Mayestik. Mengkoleksi batik saat ini memang menjadi kegiatan yang banyak digemari. Dengan nilai…

Read more
Batik Indonesia

I will tell you about batik indonesia, which is an Indonesian fabric that is created by waxing and dyeing cotton…

Read more

Punya info situs menarik, tentang batik atau wisata Indonesia? Kirimkan disini.

About

BatikIndonesia.com adalah komunitas penggemar batik terbesar di Indonesia, dengan 5 juta fans di facebook, instagram, dan website.

Misi kami adalah membantu para pebisnis Batik Indonesia, agar dapat tumbuh terus. Dan semakin menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Alamat Redaksi
Cipinang Indah. Jakarta Timur

Navigation