
Sekitar 25 perempuan Dukuh Mindik, Desa Gandasuli, Kecamatan Bobotsari, Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah, telah didata terkait aktivitas mereka membatik. Mereka adalah perempuan-perempuan yang selama ini berusaha melestarikan batik, sebagai salah satu peninggalan budaya bangsa.
Namun karena berbagai faktor dan kendala, sebagian besar diantara mereka jarang bahkan berhenti sama sekali dari kebiasaan membatik yang sudah berlangsung turun-temurun sejak puluhan tahun silam.
Dari hasil riset yang dilakukan Forum Komunikasi Pemuda Pemudi Gandasuli (FORKAPPI) yang bekerja sama dengan Cinema Lovers Community (CLC), mahalnya bahan baku yang tidak imbang dengan harga jual hasil batikan menjadi faktor utama para perempuan itu berpindah profesi dan bahkan berhenti sama sekali dari membatik.
Dukuh Mindik adalah satu wilayah rukun tetangga yaitu RT 03 RW 05 Desa Gandasuli. Perdukuhan ini memiliki sekitar 44 kepala keluarga dan berpenduduk sekitar 152 warga. Pada awalnya, profesi membatik dilakukan hampir semua perempuan dewasa di perdukuhan ini, selain bertani atau lebih tepatnya buruh tani.
Puluhan pembatik dan ‘mantan’ pembatik yang keseluruhannya sudah menikah itu dengan beragam usia, yang tertua sekitar 73 tahun sementara 31 tahun adalah hitungan usia termuda. Keseluruhan dari mereka sudah menikah. Mereka mayoritas berpendidikan sekolah dasar. Hanya beberapa saja yang lulus setingkat SLTP.
Menurut data, kurang dari separo perempuan Dukuh Mindik sudah tak menyentuh canting lagi. Mereka menyebar dengan beragam profesi seperti; buruh tani, pedagang, tukang pijat, pembatu rumah tangga, dan buruh bulu mata palsu (ngidep). Profesi buruh tani adalah profesi lama yang mengiringi para pembatik. Membatik adalah pekerjaan ketika perempuan-perempuan itu tidak sedang berada pada musim tandur dan panen.
Sementara profesi yang terakhir disebutkan, yaitu ‘ngidep’ adalah profesi yang relatif baru. Penyebarannya sangat masif mempengaruhi perempuan-perempuan hingga ke berbagai pelosok desa di Purbalingga dengan sistem kerja Plasma yaitu dikerjakan di rumah.
Dari semua itu, hal yang menggembirakan adalah ketika para perempuan Dukuh Mindik menjawab bahwa mereka pada dasarnya masih ingin terus membatik. Ada secercah harapan dan opsimisme menyelamatkan batik di Dukuh Mindik dari kepunahan.
Catatan: Photo dan artikel kiriman dari Bowo Leksono di Jl. Kol. Soegiri 34 Bobotsari, Purbalinga 53353
Punya Photo dan artikel yang lainnya? Kirim saja dan bisa dapat hadiah batik dari kami. Klik disini.
Koleksi Terbaru Kami
-
-
Kain Batik Tulis Megamendung Coklat Marun Latar Putih, Rp. 295.000,00
-
Kain Batik Tulis Madura Motif Baddai Bunga Polkadot Baby Blue, Rp. 265.000,00
-
Tas Mungil Batik Tulis Megamendung Biru , Rp. 85.000,00
-
-
-
Tas Mungil Batik Tulis Kumpeni Bambu Orange, Rp. 85.000,00
-
Tas Mungil Batik Cap Motif Trapesium Lereng Lime Green, Rp. 55.000,00
-
Celana Pangsi Batik Tulis Motif Kumpeni Oranye Pink, Rp. 215.000,00
-
Graduation XII IPA 1 SMA 1 Gebog - Srikandi Berbatik di Singapura



Komplek Kimia Farma, Jl. Laut Banda, Duren Sawit – Jakarta Timur. Mohon hubungi kami melalui telpon atau email sebelum melakukan kunjungan.

