
Saya sangat mengagumi kain batik yang kaya akan motif-motifnya, hampir setengah isi lemari baju saya penuh dengan baju batik aneka motif dan corak warna. Tentu saja motif-motif kain batik tersebut berasal dari seluruh kota-kota yang ada di Indonesia jadi ya 100% asli buatan Indonesia, sebut saja Kota di Jawa Tengah yang terkenal dengan batiknya yaitu Kota Cirebon, Pekalongan, Yogyakarta, Solo dan masih banyak yang lainnya. Sementara di Jawa Timur bisa kita temui kain batik khas Madura dengan motif serat. Setiap motif entah berasal dari kota manapun selalu punya kisah cerita tersendiri. Motif-motif batik tersebut bisa dibedakan menjadi 2 macam yaitu batik dengan motif tradisional dan batik dengan motif modern. Saya belum terlalu pintar untuk membedakan kedua jenis motif ini.
Saya lahir dan besar di Kota Semarang yang -kata orang- terkenal sebagai kota yang sangat panas. Kota Semarang juga sangat terkenal dengan jajanannya seperti lumpia, wingko babat, bakpia, bandeng presto, dan lain sebagainya. Sayang, untuk hal batik Kota Semarang bisa dibilang jauh tertinggal dengan kota tetangganya sebut saja Pekalongan (terkenal dengan sebutan kota batik) dan Solo yang sangat terkenal dengan kerajinan batiknya, bahkan sebagian besar masyarakatnya hidup dari penghasilan kerajinan batik.
Menurut sejarah mengenai batik Semarang, sebenarnya sudah lama ada sejak zaman penjajahan Belanda. Terletak di Kampung Batik yang merupakan daerah pusat batik Semarangan, bisa ditemukan sisa kejayaan batik Semarang yang hanya ada beberapa saja, selebihnya sudah tidak ada karena terkikis oleh zaman. Menyedihkan.
Zaman dahulu orang Semarang membatik (membuat batik) hanya untuk dipakai sendiri sehingga tidak pernah dipatenkan motif dan nama batiknya, lain halnya dengan batik Pekalongan maupun batik kota lainnya yang sudah mematenkan hak produksinya sehingga sampai sekarang kita mengenal nama dan ciri khas dari setiap motif batik dari kota-kota tersebut. Motif-motif yang digunakan pada tempo dulu lebih banyak menggunakan motif-motif naturalis seperti motif flora, pohon, rumah, dan kupu-kupu.
Pada tahun 2006, Pemerintah Kota Semarang mulai aktif menggerakkan kembali usaha kerajinan batik dari pengusaha-pengusaha kecil yang sempat mati suri. Akhirnya melalui berbagai seminar dan pembinanaan-pembinaan secara teknis, mulai bermunculan sentra-sentra batik di Semarang seperti yang pernah saya kunjungi yaitu Galeri Batik Semarang 16 milik Ibu Umi S. Adi Susilo yang terletak di Desa Sumberejo Kel. Meteseh Kec. Tembalang. Batik milik Ibu Umi ini pemasarannya cukup unik karena menggunakan media online sebagai bagian cara penjualannya.
Sayangnya, waktu berkunjung ke lokasi yang sangat jauh dari pusat kota tersebut, saya tidak bertemu dengan Ibu Umi sebagai pendiri sekaligus pemilik 219 macam motif batik Semarang yang diciptakannya. Perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 1 jam dari pusat kota Semarang (baca : Simpang lima), terbayarkan ketika saya sampai disana. Suasana yang sangat asri (back to nature) dan masih kental dengan budaya Jawa Tengahnya, benar-benar dapat membayar rasa lelah saya setelah seharian berkeliling kota.
Motif batik ciptaan Ibu Umi ini lebih menampilkan motif yang menjadi landmark Kota Semarang, seperti Tugu Muda, Gereja Blenduk, Lawang Sewu, dan lain sebagainya. Selain landmark Kota Semarang, Ibu Umi juga memilih motif kuliner untuk batik ciptaannya, seperti motif batik lumpia dan motif tahu gimbal. Lucu dan sangat unik sekali tentunya. Tidak heran bila motif batiknya mulai dipatenkan menjadi batik khas Semarang oleh Ditjen HAKI.
Di galeri Batik Semarang 16 ini menyediakan berbagai macam hasil kerajinan batik seperti dress untuk resepsi pernikahan, selendang, kemeja kerja untuk perempuan dan laki-laki, kaos batik, taplak meja, sampai mukena dan sajadah untuk ibadah. Saya pun memutuskan untuk membeli sebuah kemeja yang kebetulan titipan teman saya pada waktu itu, sempat bingung juga untuk memilihnya karena semua batik yang ada disana menurut saya sangat bagus. Walaupun saya sendiri tidak membeli, namun saya cukup puas dengan mengunjungi galeri milik Ibu Umi tersebut. Rasa puas saya terlebih karena si pemilik sangat pintar menata dan membuat galeri batik miliknya menjadi nyaman dikunjungi oleh para peminat batik. Disana selain galeri batik yang dipamerkan ke pengunjung, ada juga anjungan (baca: semacam rumah-rumahan seperti gubug dengan atap dari jerami) sebagai tempat untuk melakukan pewarnaan, pembuatan batik dengan cara tulis maupun cap, dan tempat untuk penjemuran sebagai tahap akhir proses pembuatan batik. Sayang, saya berkunjung sudah sangat sore sehingga tidak bisa melihat langsung bagaimana mereka (baca: para pekerja) memproduksi batik yang mampu mengangkat nama harum Kota Semarang ini.
Bila ada waktu luang berkunjunglah kesini, dijamin Anda akan terkagum-kagum. Untuk masalah harga ya…siap-siap saja untuk merogeh kocek yang dalam untuk motif dan jenis kain tertentu, namun masih ada kok beberapa yang masih terjangkau. Selamat ber-hunting batik semuanya……
Catatan: Photo dan artikel kiriman dari Ambar Rianti Soebari di Jl. Batu Tulis VII No. 30 Pecenongan-Jakarta Pusat
Punya Photo dan artikel yang lainnya? Kirim saja dan bisa dapat hadiah batik dari kami. Klik disini.












Komplek Kimia Farma, Jl. Laut Banda, Duren Sawit - Jakarta Timur. Mohon hubungi kami melalui telpon atau email sebelum melakukan kunjungan.