Batik Padang
Batik Tanah Liek: 5 Hal yang Perlu Kamu Ketahui
Minangkabau bisa jadi lebih terkenal dengan kain tenunnya ketimbang kain batiknya. Tapi jangan salah, di daerah yang yang masyur dengan rumah gadangnya ini, terdapat batik asli yang mempunyai ciri khas unik. Batik tanah liek.
Hm … batik yang seperti apa ya, yang dimaksud? Cari tau, yuk!
1. Tentang Batik Tanah Liek
Tanah liek merupakan bahasa Minangkabau untuk tanah liat. Batik tanah liek menggunakan tanah liat sebagai bahan pewarna. Prosesnya adalah dengan merendam kain di dalam tanah liat sebelum dan sesudah pembuatan batik.
Proses ini akan menghasilkan warna yang sangat khas, yang membuatnya berbeda dari batik-batik daerah lain. Lebih detil tentang proses pembuatan batik tanah liek, baca di nomor selanjutnya, yuk!
2. Cara Pembuatan Batik Liek
Pertama-tama, kain polos yang belum dibubuhi motif batik direndam di dalam tanah liat selama satu hari agar warna tanah menyatu dengan kain dan memiliki ketahanan baik.
Setelah perendaman selesai, kain dicuci bersih. Barulah kain siap diberi motif. Metode selanjutnya sama seperti pembuatan batik pada umumnya, menggunakan malam cair sebagai perintang warna.
Pewarnaan pada batik tanah liek menggunakan pewarna alami seperti kulit jengkol untuk mendapatkan warna hitam, dan getah gambir untuk warna merah. Selain itu, kulit bawang, kulit mahoni, jerami, dan kulit rambutan juga bisa dijadikan bahan pewarna batik liek.
Kain batik kembali direndam dalam air tanah liat saat proses pewarnaan. Bahkan, kadang dilakukan proses perendaman dalam air tanah liat selama satu minggu. Makanya warna batik tanah liek sangat khas. Karena itulah warna dasar batik tanah liek berwarna dasar seperti warna tanah.
3. Sejarah
Konon, batik tanah liek sudah ada di Minangkabau sejak abad ke-16. Cara pembuatannya yang unik merupakan pengaruh kebudayaan Cina. Para pembatik di daerah Sumanik, Kabupaten Tanah Datar, yang pertama kali menerapkan proses pembuatan batik dengan menggunakan tanah liat ini.
Namun, perkembangan batik tanah liek kurang menggembirakan. Tak banyak pengrajin batik di Minangkabau sehingga keberadaan batik ini kurang lestari. Bahkan, batik tanah liek sempat hilang keberadaannya pada masa penjajahan Jepang.
Batik tanah liek muncul kembali pada sekitar tahun 1994 atas usaha Wirda Hanim. Dengan gigih, wanita tersebut berusaha memproduksi kembali batik tanah liek. Berkali-kali ia melakukan percobaan agar mendapatkan hasil yang menyamai batik tanah liek asli yang pernah ia temui di Sumani. Namun ia kerap gagal. Dari sepuluh batik yang ia coba produksi, hanya dua saja yang menyamai batik liek asli. Akhirnya, dengan tanah payau yang ia ambil dari dekat rumahnya, ia berhasil terus memproduksi batik liek hingga saat ini. Ia mengusung label Citra Monalisa.
Ada tiga sentra batik tanah liek di Minangkabau. Selain Citra Monalisa di Padang, ada juga sentra di Dharmasraya dan di Pesisir Selatan.
4. Motif Batik Liek
Motif batik liek kuno mempunyai ragam hias kuda laut dan burung hong. Pada perkembangannya, ragam flora dan fauna khas ranah Minang mendominasi produk batik liek. Semisal, motif pucuk rebung, sawit, dan tanaman-tanaman merambat. Selain itu juga dimodifikasi dengan simbol-simbol khas daerah Minangkabau.
Pinggiran batik liek memiliki motif yang khas, yaitu motif kaluak paku.
5. Pemakaian Batik Liek
Batik tanah liek dahulu hanya digunakan pada upacara adat khusus sebagai selendang. Hanya para ninik mamak, bundo kanduang, dan datuk panutan adat yang boleh mengenakannya. Para perempuan menyampirkannya di bahu, sementara para panutan adat melingkarkannya di leher.




Komplek Kimia Farma, Jl. Laut Banda, Duren Sawit - Jakarta Timur. Mohon hubungi kami melalui telpon atau email sebelum melakukan kunjungan.