Berdiri di depan pintu kedatangan internasional bandara Kingsford Sydney, saya menyaksikan orang yang baru datang dari luar negeri dengan beragam polah. Anak-anak muda menenteng papan selancar dengan baju tipis motif bunga-bunga ala pakaian Hawai. Satu keluarga dengan anak-anak masih kecil membuat orang tuanya harus membagi energi antara menggusur koper dan mengawasi anak-anak. Ada yang melenggang dengan tenang sambil melihat kanan kiri mencari sanak keluarga yang menjemputnya. Dan…ini dia yang gue demen, kata orang Betawi. Ada bule pakai batik lengan pendek berjalan penuh gaya seolah ingin memperlihatkan pada orang-orang’” Lihat apa yang saya pakai…” Senang melihat orang luar mengenakan produk milik bangsa Indonesia.
Bukan sekali saja saya melihat bule pakai batik. Di kampus the University of Sydney beberapa kali berjumpa dosen berbatik, termasuk host professor di Biological Science yang memang pencinta batik. Di jalan pernah juga bertemu seorang profesional paruh baya mengenakan batik berwarna biru yang enak dipandang karena kulit bule yang putih bersih dibalut kain berwarna biru dengan corak batik khas Indonesia. Host professor yang saya hadiahi kemeja batik lengan pendek berwarna merah, dengan bangga memakainya ke kampus sehingga mengundang decak kagum dari mahasiswa di lab,” Colourfull shirt…” dan dia menunjuk ke arah saya” tuh dari Cecep.” Jadilah saya kewalahan menerima order kapan saya dong….Saya hanya penuhi dua saja; satu untuk Tom, mahasiswa S-3 asal Uganda yang berbaik hati membantu sejak awal kedatangan di Usyd dan Pampa orang India yang diwisuda bulan Desember 2010. Bukan main senangnya mereka menerima hadiah baju batik itu, “Wonderful…” Bagi saya hitung-hitung sebagai promosi produk budaya Indonesia dan memberikan informasi pada orang luar bahwa batik adalah milik Indonesia.
Duh… bangga dan senangnya banyak bangsa lain menyukai batik kita. Memang tidak salah, motif batik kita sangat artistik dan memberikan kharisma bagi yang memakainya.Ini bukan sekedar kain, tetapi merupakan karya seni lukis nan indah yang sarat dengan muatan filosofinya. Pernah ketika berjalan-jalan di central market atau Kasturi ditawari batik Malaysia. Dalam hati, “Tidak level ah, Indonesia punya yang seribu kali lebih baik” Batik di negeri ini seperti sedang mencari bentuk, sementara Indonesia sudah berabad-abad umurnya. Rupanya tidak hanya Malaysia yang mengembangkan batik, Australia pun tampaknya mencoba mengangkat motif dot-dot khas Aborigin ke atas kain katun. Petugas wanita di konter Garuda Sydney yang mengenakan baju biru bermotifkan dot-dot milik suku Aborigin, saya komentari sebagai mirip batik Indonesia dan dia senang mendapat komentar itu. Kalau sebelumnya tahu tempat menjual batik aborigin saya pun pasti membelinya untuk melengkapi koleksi batik di rumah.
Saya berterima kasih pada ibu saya yang memperkenalkan pada batik ketika duduk di bangku SMA. Saya ingat betul ketika itu ibu membelikan baju batik lengan pendek berwarna krem dengan motif bulatan cokelat tua. Saya senang memakainya karena alasan motif dan dingin dipakai. Sampai sekarang saya lebih senang kain batik dengan bahan dasar katun. Pilihan ini mendapat penguatan dari seorang perancang mode kenamaan yang mengatakan batik katun sesuai untuk iklim tropis seperti Indonesia. Pengalaman berbatik terus berlanjut. Ketika kuliah S-1 dulu, angkatan kami mendapat apresiasi dari pimpinan fakultas. Pasalnya pada waktu acara audiensi pimpinan fakultas dengan para mahasiswa, angkatan kami sepakat menghadiri acara tersebut dengan dress code batik.
Sekarang batik kembali diminati masyarakat, bahkan anak muda pun banyak yang mengenakan batik. Mahasiswa kalau ada acara, panitianya memakai seragam batik. Ajakan pemerintah untuk berbatik disambut hangat oleh masyarakat. Produsen batik bergairah kembali. Di Jawa Barat banyak bermunculan sentra-sentra batik yang menampilkan kekhasan motifnya. Sebut saja Cirebon dan Indramayu mewakili batik pesisir. Garut dan Tasikmalaya batik gunung yang menampilkan warna pastel. Sudah selayaknya kita bangga dengan maha produk milik bangsa yang telah menjadi warisan dunia. .
Catatan: Photo dan artikel kiriman dari Cecep Hidayat di Jl Terjun Tandom no. 22 Bandung 40293
Punya Photo dan artikel yang lainnya? Kirim saja dan bisa dapat hadiah batik dari kami. Klik disini.
Koleksi Terbaru Kami
-
-
Kain Batik Tulis Buket Bunga Kuning Bertumpal Biru, Rp. 495.000,00
-
Kain Batik Tulis Motif Manuk Toska Bertumpal, Rp. 495.000,00
-
Tas Batik Cap Motif Lereng Merah Marun Hitam, Rp. 55.000,00
-
-
-
Tas Batik Tulis Motif Bambu Hijau Latar Putih, Rp. 85.000,00
-
Syal Jumputan Motif Motif Trapesium Coklat Kombinasi Hijau Merah, Rp. 145.000,00
-
Kain Batik Tulis Megamendung Pink Kombinasi Latar Putih, Rp. 295.000,00
-
Punya photo batik atau cerita yang lebih seru dari ini? Klik disini untuk Kirim cerita batikmu di sini
Mau dapat bonus 5 ribu rupiah?, sekaligus cerita batik, info produk batik terbaru? Join klub batik kami di sini



Komplek Kimia Farma, Jl. Laut Banda, Duren Sawit – Jakarta Timur. Mohon hubungi kami melalui telpon atau email sebelum melakukan kunjungan.

