Seperti yang disampaikan salah satu pemenang Lomba Blog Entry Batik Indonesia bekerja sama dengan Blogfam beberapa waktu lalu, Barokah Ruziati, rasa cinta dan kebanggaan pada batik akan semakin dalam apabila karya seni satu ini tidak hanya diaplikasikan pada busana. Baik busana untuk menghadiri acara resmi seperti pernikahan maupun pakaian sehari-hari. Sebenarnya pakaian itu sendiri memiliki banyak ragam dan komponen, sehingga pengejawantahannya bisa lebih luas lagi.
Di antara sejumlah jenis pakaian berbahan dan motif batik (untuk sehari-hari) serta pelengkapnya yang saya ketahui:
1. Daster
2. Pakaian tidur/pakaian rumah dua potong, terdiri dari atasan dan celana. Bisa pendek atau panjang.
3. Selendang. Bukan hanya untuk pakaian pesta, tapi juga menggendong dan membuai bayi.
4. Kerudung. Belum lama ini saya mendapat ide, yang bisa jadi bukan hal baru, untuk mengenakan kain batik sebagai kerudung. Saya pribadi masih kesulitan mencari kerudung yang memang berbahan batik, jadi lebih sering memodifikasi kain sarung yang lebar dan bahannya sejuk itu. Kesulitannya hanyalah rata-rata motif batik cenderung “ramai” sehingga harus senantiasa memadukan dengan pakaian yang polos tanpa corak.
5. Celana pangsi, bisa dipakai pria dan wanita. Salah satu dosen native speaker semasa saya kuliah dulu sangat gemar memakai celana model ini dengan bahan kain batik Yogya dan Bali. Wajar saja sebab hawa lingkungan kampus tergolong panas baginya.
6. Sarung yang dijadikan selimut. Ini bagian kehidupan masa kecil saya tiap kali pulang kampung. Cuaca di sana relatif tidak panas, tidak juga dingin. Jadi lebih nyaman apabila tidur memakai sarung batik saja.
Benda lain yang tak kalah akrabnya ialah seprai. Kendati cuaca di kediaman kami termasuk sejuk, bahkan sering berubah dingin pada waktu-waktu tertentu, seprai batik tetap menjadi pilihan untuk melapisi kasur. Alasan paling kuat, apa lagi kalau bukan karena mudah dibenahi, dicuci dan disetrika. Toh hawa dingin bisa diatasi dengan selimut dan mantel.
Mukena batik pun termasuk pernik yang saya sukai. Ada pendapat bahwa sebaiknya mukena berwarna putih saja dan polos, sehingga saya mengurungkan niat mengenakan mukena yang bercorak penuh seperti suatu tren beberapa tahun silam. Mukena batik menciptakan semacam siasat kreatif, tetap putih dan bahannya sejuk, tepi-tepinya saja yang dihiasi kain bermotif. Terlihat cantik tentunya, saya meyakini bahwa beribadah pun perlu memperhatikan penampilan yang bersih, rapi, dan menarik sebab Allah sangat menyukai keindahan selama tidak berlebihan.
Masih ingat sampul buku tulis bermotif batik? Sekarang ini mungkin jarang yang memakai buku tulis, terkait perangkat teknologi dan adanya jenis catatan berupa binder berikut loose leaf-nya. Bahkan keponakan saya yang masih SD pun menyukai binder untuk tulis-menulis. Tidak ada salahnya memberlakukan sampul bermotif batik tadi untuk buku-buku pegangan. Akan sangat menarik juga bila sampul buku catatan dihiasi sedikit corak batik, demikian pula amplop dan kertas. Sedikit saja di pojoknya, sebagai pemanis yang secara implisit mengajarkan anak mengenal unsur budaya Indonesia.
Hobiis membaca buku seperti saya gemar mengoleksi pembatas buku. Kadang bisa dibuat sendiri memanfaatkan berbagai barang yang ada. Ini salah satu benda yang bisa disisipi unsur batik, secara penuh atau selaku aksesoris. Misalnya pembatas berpola batik Basurek untuk buku agama, pola batik Priangan yang ceria untuk buku remaja yang ringan, dan pola Kumpeni untuk buku sejarah.
Bicara soal batik Basurek ini, saya teringat beberapa kerabat yang tidak suka memajang foto dan gambar makhluk hidup di rumah. Mengingat batik Basurek peruntukannya khusus, ini bisa jadi alternatif untuk dibingkai dan menjadi hiasan dinding. Bukan berarti pola batik lainnya tidak cocok. Teknik memasang potongan-potongan kain yang demikian dapat tergolong prakarya, seperti halnya guru dan orangtua yang memajang hasil karya murid atau anak-anak di tembok rumah sebagai tanda mata dan apresiasi.
Masih terkait prakarya, penerjemah dan editor Nita Candra yang hobi kerajinan tangan mengkreasikan potongan kain batik. Sebagaimana terlihat di postingan blognya ini, beliau mengolah batik menjadi wadah aksesoris mungil dan ikat rambut elastis yang cantik.
Batik pun dapat dipergunakan untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar. Bukan hanya terkait sejarah dan aktivitas membatik yang belakangan dijadikan ekstrakurikuler di sejumlah sekolah. Berdasarkan gambar batik yang ada, contohnya pola batik dongeng, guru bahasa Indonesia dapat meminta murid menggunakan imajinasi dan mengarang cerita. Bisa juga dalam mata pelajaran kesenian, murid didorong menggambar bentuk-bentuk lain menurut hikayat yang diketahuinya. Untuk anak yang masih kecil, keragaman pola dan corak batik menjadi salah satu sarana mengenalkan bentuk dan warna pula. Sejenis metode yang senada dengan kartu A-B-C yang sekarang banyak digunakan secara edukatif.
Pernah lihat kalender berhias motif batik? Saya belum. Jika sedang berada di ruang tunggu dokter dan tidak ada buku/majalah yang bisa dibaca untuk mengisi waktu, saya sering melihat-lihat kalender yang tergantung di dinding. Umumnya berhiaskan kalimat motivasi dengan tampilan gambar yang mirip presentasi Power Point atau Clip Art. Memang ini bermanfaat, seperti halnya poster-poster mengandung pesan kesehatan di ruang tunggu tersebut. Guna menciptakan alternatif menghilangkan jenuh, apalagi jika pasien mendapat giliran yang mengharuskan menunggu sangat lama, salah satunya adalah corak batik. Yang kalem-kalem dan tidak membuat pusing, cocok dipandangi orang yang sedang tidak enak badan. Sebenarnya bagi saya, salah satu yang membuat tegang di tempat praktik dokter adalah cat putih dan jas putih yang dikenakan tenaga medis. Namun sangat sukar, bahkan hampir mustahil, membayangkan dokter di negara kita ini mengenakan jas berwarna lain. Apalagi bermotif.
Di era teknologi, blog bukan lagi barang asing. Memanjakan mata bisa dengan memakai background batik atau tepi-tepinya saja agar lebih ramah pengguna, mengingat koneksi internet kadang-kadang lambat. Cara lain, menggunakan pernik batik itu sebagai pemanis header. Saya membayangkan uniknya theme komputer, baik desktop maupun laptop/netbook dan perangkat lainnya, yang bernapaskan batik. Katakanlah kursor mouse-nya berbentuk canting, pesan error-nya menghasilkan nada gamelan, dan wallpaper-nya dari aneka batik yang disusun menjadi kolase. Apalagi sekarang ini sarung laptop bermotif batik dan ransel batik mulai disukai anak-anak muda, pertanda batik makin berterima di segala kalangan dan lapisan masyarakat kita.
Salah satu fitur sebuah akun e-mail gratis, versi webnya, memungkinkan kita mengganti-ganti template. Saya sendiri baru melakukannya belum lama ini, terkait koneksi yang jarang bersahabat. Di situlah lahan “promosi” motif batik, yang dibuat jarang dan tidak rapat gambarnya, sehingga tidak tumpang tindih dengan deretan isi e-mail.
Tikar tergolong perlengkapan rumah yang saya sukai, terkait kepraktisan dan nilai bersahaja yang ada di dalamnya. Boleh dikatakan, saya cenderung “ndeso” karena lebih akrab dengan tikar ketimbang karpet. Menyangkut permadani, bila ada karpet Persia, bukankah menarik juga jika ada karpet batik dari Indonesia?:)
Gambar Batik yang Universal -
Yuk, Tengok Model Baju Batik di Pasaran!
Related Batik Search
gaya batik kontemporer, cara memakai jilbab kontemporer, baground batik hidup untuk computer, aneka kreatif bermotif batik, gambar baju rumah sehari-hari, mncri gmbr foto gadis madura pakai sarong, mukena batik bali putih, cara memakai jilbab kontemporer, keistimewaan batik batik beserta gambarnya, mencari gambar batik yang ada di solo,