Gambar Batik yang Universal

Satu hal yang saya kagumi dari gambar atau pola batik, hasilnya sedemikian rupa indah sehingga pria pun bisa mengenakannya tanpa merasa “risi”. Lihat saja foto di bawah ini, bahan seragam keluarga untuk pernikahan keponakan kami dua bulan lagi.

Bahan satu ini diperuntukkan yang pria, termasuk suami saya. Jika diamat-amati, polanya jelas mengandung bunga tapi sama sekali tidak terlihat feminin. Bahkan berwibawa dikenakan oleh pria, ditambah warna cokelatnya yang tegas dan anggun. Permainan warna “kalem” yang menjurus gelap, keperakan dan warna merah redup membuat motif kain tersebut tetap gagah untuk busana lelaki.

Batik memang serupa lukisan, hasil karya seni yang memadukan ketelitian, kerja keras dan cinta selain tentunya kreativitas dan inspirasi yang bisa dijemput dari sana-sini. Masih bicara mengenai busana resmi pria, saya menjenguk lagi perihal gambar bunga di seragam pada kesempatan lain. Ini pun dikenakan oleh suami.

Dibandingkan yang sebelumnya, baju batik ini lebih ramai didominasi bentuk bunga. Warnanya pun kuning, tapi dengan kecerdikan perajin/perancang tidak jatuh “kewanita-wanitaan”. Kuningnya “dimatikan” oleh warna dasar yang gelap, kontras namun tetap enak dipandang. Sulur-sulur tanaman merambat yang berbunga pada pola itu menciptakan suasana tumbuh subur dan berkembang yang memang pas dengan suasana kehidupan pengantin. Membuka lembaran baru, bukan hanya bagi kedua mempelai yang memperoleh pasangan, tetapi juga keluarga yang semakin besar. Ibarat pohon yang terus tumbuh bersemi.

Walaupun demikian, tidak berarti motif tersebut mutlak “milik” kaum lelaki. Kombinasi bunga dan warna gelap itu tetap cocok untuk diolah menjadi busana wanita, termasuk saya yang pada dasarnya memfavoritkan warna-warna seperti demikian.

Saya teringat pengalaman belum lama ini di Cilacap, kota yang dikenal dengan slogan Cilacap Bercahaya. Sebagai bagian wilayah Jawa Tengah, bahkan merupakan salah satu kabupaten terbesar, Cilacap pun tidak luput dari perkembangan karya seni batik. Saya gembira sekali mendapati busana batik seperti dalam foto di bawah ini, sebab dominan warnanya adalah abu-abu. Menurut saya warna dasar seperti itu cukup jarang dibandingkan cokelat atau sogan.

Ternyata ini merupakan batik Pekalongan. Hanya saja motifnya sudah hasil kombinasi. Pola parang dengan garis-garis khas menjadikan busana ini terlihat resmi, padahal karena bahannya yang sejuk, saya mengenakan dalam perjalanan ke luar kota. Mungkin karena terkesan seperti “busana ke undangan” itu, sepanjang perjalanan saya terus dipanggil “Ibu”. Tapi toh usia saya sudah pantas sekali dipanggil demikian, dan saya pikir motif ini menghasilkan aura berwibawa tersendiri. Bandingkan dengan yang lebih ceria seperti bunga yang dipadukan warna cerah-cerah di sana atau di situ.

Apakah motif yang dihasilkan harus selalu bernada “serius” atau berat? Tentu saja tidak. Mari kita lihat batik Tasikmalaya yang ini dan itu. Mungkin terkesan kurang “batik” dalam arti tidak seperti kebanyakan gambar yang kita kenal, tapi ini suatu terobosan sehingga batik dapat dipakai di kesempatan santai. Bisa dibuat baju rumah (bukan hanya daster), jalan-jalan, atau baju anak. Hitam yang menjadi dasarnya tidak menciptakan “perintang” sehingga kesan ceria tetap tertangkap dari pola tersebut.

Kembali pada masalah warna yang berperan penting untuk menonjolkan seni batik, terkhusus polanya, saya dibuat kagum lagi. Dalam perbatikan dan kombinasinya, tidak ada istilah “tabrak warna yang gagal” atau bahasa gaulnya semasa saya masih remaja, “cacat mode”. Perhatikan saja foto di bawah ini.

Merah dan cokelat kekuningan sebenarnya tidak terlalu “dekat”, tetapi batik menjadikannya pas dan enak dipandang. Bahkan motif kain dan selendang batik yang terkesan “kaku”, toh ini pesta pernikahan, mendukung busana merah menyala yang dikenakan kedua tamu dalam hari bersejarah kakak saya sekitar empat tahun yang lalu.

Demikian pula biru dan cokelat, seperti dikenakan Ua (Pakde) saya yang menggantikan almarhum Bapak ketika sungkem pengantin. Biru yang muda dan polos diberi corak batik yang kalem dan formal. Busana senada dikenakan oleh kedua besan. Secara psikologis, biru menyejukkan. Motif parang pada batik di kopiah, sejenis selendang dan sarung yang dililitkan ke tubuh para pagar bagus tampak sederhana, namun saya yakin butuh kesabaran tinggi untuk mengerjakannya.

Namun ketika melihat foto kedua kakak ini, saya baru sadar akan kejelian mereka memilih motif kain yang dipakai waktu itu. Putih memang warna wajib pengantin, tapi batik yang berwarna biru muda kombinasi putih sangat pas untuk kakak yang sama-sama merupakan anggota TNI Angkatan Laut. Gambarnya memang bukan ikan, teripang, atau makhluk penghuni laut lain yang khas pola batik pesisir, tapi bebungaan yang cocok dalam pernikahan. Biru dan putih melambangkan warna ombak, buih, burung camar, sehingga tercipta paduan konsep yang indah lagi menyejukkan.

Bagaimanapun, motif-motif resmi yang kadang tampak monoton tapi penuh ketegasan dan memancarkan wibawa tadilah yang menjadi “seragam wajib” dalam pernikahan. Ini berlaku utamanya bagi keluarga pengantin, baik pria maupun wanita. Di sinilah permainan warna tadi kembali berkreasi.

Dalam foto ini, keponakan saya yang masih SD cocok-cocok saja mengenakan kain batik berwarna cokelat-kuning dengan gambar bunga. Tapi untuk tetap menjaga penampilannya sebagai kanak-kanak, busana atasannya dipilih yang hijau cerah. Hijau crong, kata anak gaul, hijau daun pisang atau istilah saya, hijau Gedebage. Mengapa disebut demikian? Karena hijaunya mirip angkutan umum Gedebage-Stasiun di Bandung yang begitu khas sehingga orang pasti hafal dan tidak bingung mencarinya.

Bunga yang berukuran cukup besar, dibedakan dengan kontrasnya warna kuning cerah itu cukup menarik perhatian saya. Ibarat sisipan dalam pola jalin-menjalin berwarna gelap, saya membayangkan semacam hadiah kejutan yang menyenangkan.

Kebanyakan pola geometris baik kotak, jajaran genjang, segitiga, dan banyak mengandung garis membuat saya kian takjub dan mengacungkan jempol entah untuk keberapa kalinya. Mata saya silindris sehingga kesulitan melihat garis yang sejajar. Taruh kata menonton film 3 D saja tidak ada pengaruhnya bagi saya. Menarik garis dengan bantuan mistar pun sering kali dikritik. Pasalnya, saya kira sudah lurus semua tapi ternyata miring. Alangkah gawatnya bila saya mengerjakan karya batik, bisa-bisa menghasilkan ‘desain baru’ yang bersaing dengan kubisme dan abstrak.

Omong-omong mengenai gambar di kain batik, sekarang sedang tren batik yang dihiasi gambar klub sepakbola, bola, simbol tim terkenal. Memang sejauh ini, setahu saya masih terkait tim sepakbola mancanegara. Tapi ini inspirasi baru untuk menggalakkan dan memperdalam kecintaan pada batik di hati segala kalangan. Dengan demikian konsumen bangga memakainya. Ini tak ubahnya batik dongeng yang dapat menjadi sarana memperkenalkan kearifan lokal, khususnya wayang yang memang dekat sekali dengan batik.

Berhubung saya agak jenuh dengan motif batik yang begitu-begitu lagi pada pesta pernikahan atau acara resmi lainnya, saya membayangkan alangkah serunya jika ada batik motif grup rock terkenal. Katakanlah, untuk zaman saya, Bon Jovi atau Rolling Stones dengan gambar lidah menjulur yang populer itu. Atau The Beatles pun tak apa-apa:))