8 Cara Meredam Amarah

Kamu pernah nonton Anger Management? Semula saya heran, kenapa pria yang diperankan Adam Sandler itu dicap pemberang dan butuh terapi khusus? Saya merasa perilakunya biasa-biasa saja. Tapi mungkin itu berarti saya juga termasuk mudah marah.

Marah sebenarnya emosi yang wajar melanda manusia. Mungkin kamu jadi ‘gampang meledak’ ketika sedang PMS. Teman saya bilang, dilanda PMS ibarat ada nyala api berkobar di mata kita. Orang-orang yang paham kondisi akan menjauh karena takut terbakar:)

Tapi sering-sering marah juga tidak baik untuk kesehatan mental dan fisik kita sendiri. Bagaimana mengatasinya?

 

1. Tarik napas, jangan lupa embuskan, dan hitung sampai sepuluh

Ini trik yang klise dan entah sudah berapa tahun lalu saya dengar. Entah sudah berapa kali juga saya praktikkan kalau ingat. Sebelum melakukannya, jika memungkinkan, keluar dulu atau menjauh dari orang/tempat kita merasa marah tadi.

Sewaktu marah, bahu jadi tegang, tekanan darah naik, jantung berdetak lebih kencang, dan hal-hal tidak mengenakkan lainnya. Karena itulah kita perlu rileks. Bahasa anak gaulnya sih, mencelupkan kepala ke bak berisi air dingin. Tapi seperti orang yang pusing atau pingsan, marah membuat kita sesak dan karenanya butuh kelapangan bernapas. Di film-film Hollywood sering ditunjukkan adegan seseorang menahan kesal kemudian berkata, “Excuse me, I need some air for a while.”

Berjalan pelan-pelan, mengalihkan pandangan sejenak tidak hanya berguna untuk mengatasi kejemuan, tapi juga ketika kita sedang berang. Supaya darah mengalir lancar, kepala tidak nyut-nyutan karena menahan jengkel, gigi tidak perlu digertakkan, angin sepoi-sepoi mungkin bisa menyejukkan perasaan yang tadi meletup-letup. Sambil menghitung sampai sepuluh, mungkin juga lebih, perasaan kamu akan jadi lebih tenang. Barangkali malah kamu melihat pemandangan lucu yang mengundang senyum, membuat kamu lupa pada kemarahan tadi.

Tapi bagaimana dong, kalau lupa melakukan tindakan seringan ini dan terpengaruh emosi untuk bertengkar atau meluapkan amarah tadi seketika? Saya pakai trik yang sama dengan sewaktu mengendalikan nafsu belanja. Bawa satu kertas catatan kecil, selipkan di dompet, saku, atau tulis semacam memo di ponsel. Bukan berbunyi ‘Jangan Marah’, sebab kata negatif seperti ‘jangan’ malah secara psikis mendorong kita melakukan hal yang dilarang tadi. Tulis yang singkat tapi dalam, contohnya ‘Marah itu temannya setan’ atau ‘Marah = Rugi Dua Kali’.

 

2. Salurkan pada aktivitas lain

Ada yang bilang, lebih baik menghadapi orang marah daripada orang lapar. Bagaimanapun juga, saat kita marah, energi mendadak meningkat berkali-kali lipat. Badan rasanya panas dan kita sulit berpikir jernih.

Langkah ini terkait saran pertama tadi. Alangkah sayangnya bila energi yang melimpah dipakai melakukan tindakan-tindakan yang nantinya akan kita sesali. Dalam agama saya, ada anjuran bahwa jika marah sewaktu berdiri, duduk. Bila sedang duduk, berbaring saja. Kadang-kadang tidur bisa meredakan kekesalan, walaupun saya jadi bermimpi buruk.

Aktivitas fisik yang ‘keras’ bermanfaat untuk menyalurkan tenaga sangat besar ini. Ada kalanya, bekerja bisa menjadi obat. Menyeterika, contohnya. Saya suka melakukan itu supaya badan berkeringat, walaupun mungkin hasil setrikaannya tidak serapi ketika saya tidak sedang kesal. Mencuci piring mengalirkan rasa dingin ke tubuh karena bersentuhan dengan air. Ada yang bilang, tidak disarankan memasak sebab nanti makanannya jadi tidak enak. Entah benar entah tidak. Yang pasti, ketika sedang marah-marah, saya pernah melakukan serangkaian kesalahan menggelikan seperti lupa menyalakan kompor dan lupa menambahkan bumbu, padahal bukan masak ‘berat’.

Yang paling ampuh buat saya adalah bersih-bersih. Saya pernah baca di beberapa buku, yang diamini seorang kenalan psikolog, bahwa bersih-bersih mendatangkan aura positif. Saya yang biasanya malas sekali berbenah ketika sedang tenang malah jadi giat menata ulang ruangan atau membereskan kamar kerja untuk menurunkan tekanan emosi. Biasanya saat beres-beres itu saya menemukan barang-barang yang tidak perlu atau lebih bermanfaat bagi orang lain. Kalau menyengaja merapikannya, pasti saya punya segudang alasan untuk mempertahankan benda-benda itu padahal wadah atau ruang penyimpanan sudah penuh sesak. Saya paling hobi membereskan lemari pakaian, sekalipun sudah malam. Memang badan agak berpeluh jadinya, tapi saya tidak marah lagi dan langsung tidur nyenyak.

 

3. Beri waktu diri sendiri untuk menyendiri

Kadang ketika kesal, kita tidak bisa mengontrol ucapan. Lebih menyedihkan lagi, salah memilih lawan bicara untuk ‘curhat’. Mungkin saja teman bermaksud baik, dan memang tidak ingin memprovokasi. Namun ketika sedang kesal,  mendengar, “Sabar sajalah,” bisa membuat kita tambah naik darah.

Ini sudah beberapa kali saya alami, maka begitu merasa ingin marah, saya diam dan ‘bicara dengan diri sendiri’ dulu. Mengomel panjang-pendek tak mengapa, nanti kamu lambat-laun lelah juga. Setelah itu, baru kamu bergabung lagi dengan yang lain.

 

4. Hindari komputer

Kamu pasti sudah tahu bahayanya mengekspresikan diri berlebihan di dunia maya. Sedang tidak marah saja, kita bisa lepas kendali. Apalagi ketika emosi menguasai pikiran. Agar tidak tergoda, tempel di dekat komputer kertas Post-it atau kalau perlu, pasang papan tulis dengan pesan-pesan, “Marah di media sosial itu percuma.” Atau “Kalau sampai kebablas, biar dihapus pun orang pasti ingat.”

Begitu terasa panas hati, segera matikan internet dan kalau perlu, komputernya sekaligus. Menjauh dari peralatan elektronik itu akan membuat kamu sadar, ada dunia nyata yang lebih luas dan kadang-kadang lebih ramah daripada dunia maya.

 

5. Minta pengertian teman-teman dan orang terdekat pada masa-masa ekstra sensitif

Untuk perempuan, misalnya, waktu haid atau sebelumnya. Tidak semua wanita mengalami gangguan fisik seperti pusing, pegal atau sakit pinggang. Kalaupun itu terjadi, kadar dan frekuensinya berlainan. Tapi hampir pasti, haid dan PMS menyebabkan hormon bergolak dan sensitivitas meningkat. Ada yang bercanda, kamu tersinggung, padahal biasanya kamu juga berkelakar soal itu. Ada yang menyindir orang lain, malah kamu yang merasa tersenggol.

Demi kebaikan semua pihak, bicarakan baik-baik kondisi semacam ini. Dengan begitu kamu tidak dicurigai macam-macam bila bekerja pada hari tertentu sambil cemberut, contohnya. Atau tidak suka diajak ngobrol karena alasan lain, sedang ada masalah pribadi yang ingin kamu atasi sendiri atau dikejar tenggat menyerahkan tugas kuliah.

 

6. Sibukkan dengan hal-hal menyenangkan

Semarah-marahnya kamu, pasti ada yang bisa membuat geli, tersenyum atau hati terhibur. Banyak contohnya. Pesan-pesan penuh perhatian dari anggota keluarga yang bisa kamu baca ulang. Foto anak atau pasangan. Surat dari teman lama lengkap dengan kelucuan-kelucuan yang mengubah suasana hati. Atau berbagai kabar baik yang diterima kenalan dekat, orang sekitar, juga yang benar-benar menyangkut dirimu.

Kata orang, makan cokelat atau es krim bisa memperbaiki suasana hati yang buruk. Boleh-boleh saja melakukannya, asalkan tidak kelewat sering. Selain kurang baik untuk kesehatan, terlalu sering malah membuat makanan enak yang kamu sukai sekalipun jadi tidak istimewa lagi.

 

7. Tunda menanggapi urusan yang  menjengkelkan

Contohnya, SMS atau komentar di media sosial yang tidak menyenangkan. Mungkin kamu bosan mendengar argumen ruang terbatas dan bahasa tulisan yang tidak mencerminkan emosi atau ekspresi seseorang, seperti juga saya, tapi begitulah kenyataannya. Sebagian memandang itu ‘peringatan’, semacam rem untuk membaca ulang dan berpikir sebelum menekan Enter, tapi banyak juga yang berpandangan bahwa media sosial adalah tempat ‘bersantai’ dan sifatnya main-main belaka. Pernah menegur seseorang karena komentarnya kurang pantas kemudian dia berdalih, “Cuma bergurau kok, jangan dimasukin hati ya.”? Saya juga. Dan bukan hanya sekali.

Karena kita tidak bisa mengendalikan orang lain, sebaiknya emosi kita saja yang dikontrol sendiri.

 

8. Kenali penyebab kemarahan

Kadang-kadang, tidak dalam kondisi ‘sangat rawan’ pun kita selalu dibuat kesal. Bisa saja penyebabnya sama, contohnya orang tertentu yang memang tidak bisa berubah. Mungkin kamu punya kenalan yang entah kenapa komentarnya selalu kurang menyenangkan? Terkesan sulit senang atau tersenyum pada orang lain? Awalnya kamu menduga itu hanya sementara. Tapi memang ada kok, orang yang bersikap begitu setiap waktu. Bukan karena dia punya masalah, tidak suka pada kawan tertentu atau keadaan yang spesifik, tapi memang ‘hobi’ berkomentar negatif atau bergurau cenderung pedas. Biasanya orang seperti ini enggan dikritik, inginnya dimaklumi dan tidak mau berubah. Kadang-kadang malah dia merasa bangga dengan predikat ceplas-ceplosnya itu.

Lalu kamu harus bagaimana? Segala hal ada batasnya, karena kita manusia dan bukan malaikat, apalagi Tuhan. Kalau sudah mencoba bertoleransi dan menganggap “dia memang begitu dari sananya”, tapi masih sering kesal juga dan jadi kontraproduktif, artinya kamu sudah mentok. Toh yang penting kamu tidak menyimpulkan terlalu cepat ketika baru kenal, bahasa kerennya tidak ‘menghakimi’.

Dalam pertemanan, idealnya kedua belah pihak saling mengerti. Kadang kita sulit mengontrol ucapan, tapi sebenarnya perlu sekali mengingat ‘di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung’. Apa yang kita anggap lucu belum tentu dinilai serupa oleh orang lain. Dan yang perlu dicamkan pula, selalu ada orang yang tidak suka bercanda. Itu hak dia.

Kembali lagi pada orang yang terlalu senang berbicara blak-blakan dan bergurau kelewat batas tadi, bayangkan saja kamu menghadapi lubang di jalan. Cukup melihatnya sekilas, kemudian putar ke arah lain. Dalam kasus semacam ini, ‘cari selamat’ bukan tindakan yang salah. Bukankah kalau kamu marah-marah sedangkan yang membuat kesal tidak peduli apalagi memperbaiki sikapnya, kamu rugi dua kali? Masih banyak lawan bicara lain yang lebih perlu diperhatikan dan bisa membuat harimu ceria, demikian pula sebaliknya.

 

Perlu kamu ketahui, ini semua semata meredam amarah. Bukan berarti marah itu dilarang, tapi sebaiknya kita sikapi dengan bijaksana. Jika ada alasan kuat untuk marah, setelah tenang, kamu boleh mengingat dan merenungkannya kembali. Misalnya ada keluhan, sampaikan baik-baik. Ada pertentangan, selesaikan. Dengan begitu, semoga kita tidak perlu sering-sering kesal, apalagi marah.

2 thoughts on “8 Cara Meredam Amarah

  1. baagus banget,,,karena aku juga lagi ada masalah dengan orang yang punya sifat ke 8,,ini membantu banget

  2. bagaimana cara meredam nya ,setelah ke 8 cara trsebut msih blum ampuh .
    thanks

Comments are closed.